Swasembada Pangan berbasiskan Padi Lokal

Editorial   |   Artikel  |   Sabtu, 16 Juli 2016 - 12:11:37 WIB
Swasembada Pangan berbasiskan Padi Lokal

Tigamatapena.com - Swasembada Pangan, kata-kata ini acap kali menjadi senjata ampuh para pimpinan eksekutif. Bahkan perhelatan demokrasi 3 edisi terakhir menjadikan swasembada pangan menjadi isu penting untuk dimainkan guna memenangi hati rakyat pemilih. Hal ini mencerminkan potret urgensinya program yang satu ini, hingga menjadi produk politik yang bernilai tinggi.

Seberapa urgensikah sebenarnya program swasembada pangan ini dilakukan baik ditataran pemerintah pusat maupun pemerintah daerah tingkat I dan II. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa beras menjadi komoditi terbesar dengan tingkat partisipasi konsumsi lebih dari 95%. Persediaan beras yang menurun akan menyebabkan kerawanan stabilitas ekonomi, sosial dan keamanan negara

Hasil perhitungan prognosa kebutuhan beras nasional tahun 2014 merilis angka kebutuhan beras nasional per kapita sebesar 139,15 kg. Asumsi produksi beras pada tahun yang sama sebesar 71,2 juta ton dengan jumlah penduduk sebesar 252 juta jiwa, maka bisa diperkirakan selama 12 bulan akan mengalami surplus beras sekitar 4,9 juta ton. Namun, hal ini tidak bisa mejamin terjadinya keseimbangan pasokan pangan nasional. Karena, praktiknya tidak bisa dipungkiri keadaan Indonesia sebagai negara kepulauan memerlukan konektivitas agar padi yang diproduksi di Pulau Jawa bisa terdistribusi dengan baik.

Sejauh ini, pemerintah sudah berusaha keras untuk mengatasi permasalahan inkonektivitas distribusi pangan. Salah satunya dilakukan dengan pembukaan areal persawahan baru dibeberapa daerah yang notabenenya bukanlah daerah persawahan. Namun, program ini lantas hanya seperti menjadi program asal jadi karena tidak berevaluasi. Pembukaan areal persawahan baru seolah membuat petani tidak berdaya untuk mengelolalanya dikarenakan ketiadaan sistem irigasi. Sehingga, peningkatan secara signifikan akan produksi beras daerah tidak terjadi.

Potensi Padi Lokal

Melihat hal ini, maka kiranya perlu untuk mendorong daerah-daerah yang ada untuk segera berdikari sendiri memproduksi kebutuhan pangannya. Setiap daerah tentu memiliki lokalitas yang berbeda berkenaan kebutuhan pangan, sehingga tidak ada lagi doktrin bahwa distribusi pangan yang benar adalah distrisbusi beras. Lantas seperti apakah Babel? Kebutuhan akan pangan berbasiskan beras di Babel cukup tinggi. Setiap orang di Babel mengkonsumsi beras sebesar 98,2 kg per tahun, dengan jumlah penduduk1,3 juta jiwa maka kebutuhan babel akan beras per tahun sebesar 127.660 ton beras per tahun. Tinggginya kebutuhan akan beras ini tidak seluruhnya bisa disuplai dari petani lokal.

Produksi beras di Babel setiap tahunnya berkisar 10.000-15.000 ton per tahun, masih jauh dari mencukupi kebutuhan karena hanya memasok 8% dari kebutuhan akan beras di Babel (BPS 2013). Kekurangan pasokan selama ini dipenuhi dari distribusi beras asal Pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Keadaan ini tentu tidak bisa dibiarkan berlangsung secara terus menerus, sesegera mungkin pemerintah daerah harus menseriusi mengurusi pemenuhan pangan daerah.

Melihat ketidakefektifan program pencetakan persawahan baru untuk meningkatkan produksi beras daerah, maka perlu kiranya pemerintah daerah sadar diri akan potensi lokalitas. Pemerintah daerah tidak bisa lantas berharap lebih akan program persawahan tersebut. Nyatanya, sebagian besar petani di Babel mengusahakan padi dengan berladang. Berladang padi dengan menanam padi-padi lokal bangka, yang tentunya turut melestarikan keanekaragaman hayati aksesi padi lokal Bangka.

Ada yang luput dari perhatian pemerintah daerah dengan mentransformasikan sistem budidaya padi di Bangka dari berladang menuju persawahan. Pemerintah daerah lupa bahwa membangun daerah tidak mutlak kebijakan global lalu lantas melupakan lokalitas. Perhatian kepada aspek lokalitas menjadi penting karena hal-hal tersebut sudah mendarah daging di petani lokal. Strategi swasembada pangan melalui potensi padi lokal tentu akan berperan aktif menjaga nilai-nilai lokalitas dari sistem budidaya padi ladang. Terlepas dari pandangan dan pendapat negatif dari sistem budidaya ini karena turut serta menyumbangkan kerusakan hutan, tetapi itulah kultur bertani padi masyarakat Babel.

Saat ini, petani Babel berladang padi dengan menanam benih-benih lokal bangka seperti; mayang, keremunting, balok emas, aik sibundong, pulut hitam serta tebaran aksesi lain yang selalu dilestarikan keberadaanya oleh petani lokal diseluruh pelosok Babel. Data yang dirilis BPS tahun 2013 menunjukkan sepanjang tahun 2012 luasan areal panen padi ladang yang diusahakan masyarakat yakni 3.730 ha, dengan produktivitas 18,2 kwintal/ha dari total produksi 6.759 ton. Hal ini mengalami peningkatan jika dibandingkan setahun sebelumnya pada tahun 2011 dari luasan areal panen 2.588 ha dihasilkan 4.947 ton beras dengan produktivitas 19,57 kuintal/ha.

Data ini seolah membuka mata kita bersama bahwa kita hampir saja melupakan lokalitas kita. Padi lokal Bangka ini telah menjadikan beberapa desa dipelosok Bangka Belitung mampu berdikari sendiri akan pangannya. Desa Tuik, salah satu desa yang berada dibawah naungan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat setidaknya bisa menjadi contoh suksesnya swasembada beras dengan aksesi lokal pertama di Bangka Belitung. Panen raya pada tahun 2012 setidaknya membuktikan bahwa begitu potensialnya aksesi padi lokal Bangka untuk dikembangkan. Lansiran situs berita online Antara melansir bahwa penanaman aksesi lokal Bangka Utan Antu dan Mukat dengan luasan areal tanam 170 ha mampu menghasilkan beras dengan produktivitas 2,3 ton – 3,8 ton gabah kering panen per hektare. Pada tahun yang sama desa ini mampu memproduksi beras sebanyak 340 ton per sekali panen, produksi ini mampu memenuhi kebutuhan beras warga desa setempat yang hanya 120 ton per tahun dengan asumsi konsumsi 139,15 per kapita per tahun.

Desa Tuik hanya sebagai contoh kecil saja, masih banyak daerah lain dengan terus konsisten membudidayakan padi lokal Bangka untuk mengurangi ketergantungan akan beras dari daerah luar. Kita memang tidak bisa seutuhnya bisa lepas dari produk asal daerah lain, tapi apa salahnya untuk urusan beras pemerintah kembali menggagas kebijakan daulat pangan dari desa-desa bukan lagi dari adopsi kebijakan global pemerintah daerah yang berusaha menyamakan semua daerah dengan meniadakan nilai-nilai lokalitas.

Kita tidak bisa lantas begitu saja menerima kebijakan ekstensifikasi padi persawahan. Kebijakan yang memaksa kita untuk mengintroduksi varietas–varietas unggulan yang diciptakan Balai Perbenihan di Pulau Jawa sana meski sudah melewati uji multilokasi. Perbedaan mendasar tiap daerah bekenaan jenis tanah, agroklimat, tekstur tanah, pH tanah tentu menyebabkan varietas ini memiliki daya adaftif yang tinggi agar tetap mampu menghasilkan produksi yang sama pada keadaan di Jawa. Nah, faktanya menunjukkan kecenderungan daya adaftif varietas unggulan ini cenderung rendah sehingga tidak mampu mencapai potensial produksinya

Mungkin sedikit akan berbeda jika aksesi lokal yang sudah berpuluh-puluh tahun bahkan telah mencapai ratusan tahun telah hidup dan berkembang di daerah tertentu dibudidayakan dengan intensif. Aksesi Utan Antu, Aik Sibundong, Mayang dan ribuan lagi aksesi lokal lainnya tentu akan menghasilkan daya hasil yang tinggi jika diperbaiki sifat genetiknya. Aksesi-aksesi ini sangat potensial untuk dikembangkan melalui sentuhan tangan-tangan kreatif dan terampil dari petani pemuliaan. Petani pemuliaan yang akan dengan telaten menyilangkan aksesi satu dengan aksesi yang lainnya baik lokal maupun dengan meyilangkannya dengan varietas luar untuk mendapatkan sifat baik dari hasil persilangan. Sifat baik yang akan meningkatkan daya hasil tiap-tiap aksesi ini, sehingga akan dengan nyata menjadi varietas unggulan lokal sehingga kita tidak perlu lagi tergantung dari varietas luar apalagi luar negeri yang daya adaftif rendah dan cenderung rakus pupuk. Sehingga perlu sekali hadirnya tangan-tangan kreatif nan terampil ahli bernama petani pemulia tanaman ini untuk mengangkat potensi lokal kita.

Pemerintah harus berperan aktif dengan kebijakan-kebijakan yang mendukung hadirnya petani pemulia di Bangka Belitung. Kehadiran petani pemulia ini akan berperan nyata dalam mensukseskan program swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah daerah, tentunya kebijkan ini lebih terlihat nyata jika dibandingkan sikap pemerintah yang terus mengekor kebijakan pusat dan nihil kebijkan yang lahir dari kebutuhan petani lokal.

Harapan kita ke depannya menjadi salah satu daerah yang mampu berdikari sendiri akan kebutuhan pangannya. Kebutuhan pangan yang dipenuhi dengan memanfaatkan dan memaksimalkan potensi daerah berkenaan kekayaan keragaman hayati aksesi padi lokal dan peningkatan sumber daya manusia dengan lahirnya petani pemulia. 
(*RD)

Komentar Facebook

BSB Cash, Kartu Retribusi Pembayaran Non-Tunai Resmi Dilaunching

Artikel

Rabu, 04 Juli 2018 - 22:06:00 WIB - 3 bulan lalu

Sistem KRPL Menjadi Solusi Hadapi Lahan Sempit

Artikel

Kamis, 28 Juni 2018 - 23:33:30 WIB - 4 bulan lalu

Berharap Kepada Allah , Ampuh Atasi Sifat Mudah BAPER

Artikel

Kamis, 28 Juni 2018 - 21:51:25 WIB - 4 bulan lalu

Tanaman Hias Siap Bantu Atasi Persoalan di Lahan Tambang

Artikel

Selasa, 26 Juni 2018 - 08:12:16 WIB - 4 bulan lalu

Intip Kerennya Break Pemuda "Zaman Now"

Hiburan

Senin, 25 Juni 2018 - 07:56:38 WIB - 4 bulan lalu

Teknologi Pengering Lada, Menentukan Kualitas Lada Lebih Tinggi

Artikel

Sabtu, 23 Juni 2018 - 22:02:55 WIB - 4 bulan lalu

GenBI Berbagi "Pelita Ramadhan Tanggap Berbagi" 2018

HIkmah

Jumat, 08 Juni 2018 - 01:19:38 WIB - 4 bulan lalu

Generasi Baru untuk Harapan Baru

Kampus

Rabu, 16 Mei 2018 - 01:00:09 WIB - 5 bulan lalu

Pernah Menaruh Harap

Sastra

Minggu, 06 Mei 2018 - 07:04:36 WIB - 5 bulan lalu

Cinta yang pernah tertitip pada Senja

Sastra

Minggu, 06 Mei 2018 - 06:59:04 WIB - 5 bulan lalu

2nd Agro Care Day: Save Our Earth, Save Our Live, And Save Our Future.

Kampus

Minggu, 22 April 2018 - 19:28:54 WIB - 6 bulan lalu

Suhargo: "Banyak Kendala di Stan Bazar Tak Menyurutkan Semangat Kami."

Kampus

Jumat, 13 April 2018 - 08:18:25 WIB - 6 bulan lalu

Meriah: Dies Natalis ke-12, Perkenalkan UBB dengan Jalur yang Berbeda

Kampus

Rabu, 11 April 2018 - 20:52:22 WIB - 6 bulan lalu

Pengenalan Kampus Lewat Parade di Acara Dies Natalis-12 UBB

Kampus

Rabu, 11 April 2018 - 20:39:52 WIB - 6 bulan lalu

Dinda Wiranti Wisudawati Terbaik FPPB UBB "Semua Ini Berkat Orang Tua"

Kampus

Selasa, 27 Maret 2018 - 08:53:42 WIB - 7 bulan lalu

ORMAWA FPPB Galang Dana Bencana Banjir Mentok

Kampus

Sabtu, 17 Maret 2018 - 12:56:12 WIB - 7 bulan lalu

Studi Ekologi dan Populasi Kukang di Pulau Bangka

Lejok Bangka

Jumat, 16 Maret 2018 - 22:52:41 WIB - 7 bulan lalu

AIESEC Bersama Pemuda Bangka Belitung Menuju Era GO DIGITAL

Nasional

Minggu, 25 Februari 2018 - 12:49:42 WIB - 8 bulan lalu

HIMABIO Buka Pintu Masuk Mahasiswa yang "HAUS" Beasiswa Luar Negeri

Kampus

Sabtu, 24 Februari 2018 - 17:22:51 WIB - 8 bulan lalu

Tanaim: "Resi Gudang bukan Serta Merta Menaikan Harga!"

Kampus

Selasa, 20 Februari 2018 - 22:07:04 WIB - 8 bulan lalu

"Safari Politik HIMAPOL ! Bangun Balunijuk Sebagai Jantung UBB"

Kampus

Minggu, 18 Februari 2018 - 13:20:00 WIB - 8 bulan lalu

Mendapatkan Kembali Jiwa Mahasiswa Melalui Latihan Kempemimpinan 3 FPPB

Kampus

Senin, 12 Februari 2018 - 19:46:09 WIB - 8 bulan lalu

PETANG di Hari Sabtu Dekatkan Mahasiswa Fakultas Teknik

Kampus

Senin, 12 Februari 2018 - 14:08:15 WIB - 8 bulan lalu

Latihan Kepemimpinan 3rd FISIP Bangun Pengkaderan Pemimpin Masa Depan

Kampus

Sabtu, 03 Februari 2018 - 20:08:07 WIB - 9 bulan lalu

Awal Kepengurusan, HIMAGRO Bakar Semangat Melalui Training Organization (TO)

Kampus

Sabtu, 03 Februari 2018 - 19:56:45 WIB - 9 bulan lalu

Outbond, Bangun Atmosfer Baru Bagi Dosen dan Staf FPPB

Kampus

Sabtu, 03 Februari 2018 - 10:54:42 WIB - 9 bulan lalu