Upaya Mendukung Strategi Penanganan Kerawanan Pangan

Editorial   |   Artikel  |   Sabtu, 16 Juli 2016 - 11:39:08 WIB
Upaya Mendukung Strategi Penanganan Kerawanan Pangan

sawah-pexels

Tigamatapena.com - Riwan Kusmiadi, STP., M,Si. - "Memahami perubahan karakteristik pascapanen, belum memahami keinginan konsumen (daya beli masih terbatas) dan, belum memahami dan menerapkan teknik penanganan pascapanen yang benar, oleh sebeb itu gerakan kedua yang perlu dicanangkan oleh pemerintahan daerah dalam upaya penurunan susut baik kualitas maupun kuantitas adalah melalui "Gerakan Penurunan Susut Pascapanen hasil pertanian " khususnya pertanian tanaman pangan".

Tekanan terhadap komoditas beras saat ini terjadi karena kita merupakan bangsa pemakan nasi nomor satu di dunia. Rata-rata penduduk Indonesia mengonsumsi beras kurang lebih 130 kg per tahun. Pertumbuhan penduduk yang besar juga membuat bangsa Indonisia harus lebih cermat dalam merencanakan kebutuhan pangan rakyatnya. Beberapa upaya mengurangi tekanan ini tentunya sudah banyak dilakukan. Selain pencanangan program keluarga berencana yang dilakukan oleh BKKBN, Kementerian Pertanian pada awal 1990-an, dan Kementerian Kesehatan sekitar 1996 meluncurkan Pedoman Umum Gizi Seimbang dengan pesan gizi nomor satunya adalah " makanlah aneka ragam makanan".

Dalam upaya menciptakan Indonesia yang berdaulat pangan, pembangunan ketahanan pangan periode 2010-2014 lingkup Badan Ketahanan Pangan telah memiliki program Peningkatan Diversifikasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat. Cara ini tentunya perlu kita dukung guna mengurangi beban pemerintah dalam penyediaan beras untuk rakyat. Kurang optimalnya program diversifikasi pangan selama ini lebih disebabkan oleh citra beras yang superior ketimbang pangan sumber karbohidrat lainnya.

Masyarakat Indonesia secara mayoritas memiliki pandangan yang masih kurang yakin terhadap keberadaan singkong atau produk non beras lainnya. Orang yang makan singkong masih dianggap sebagai orang yang bermasalah baik secara ekonomi maupun kesehatan. Bahkan karena sebuah kebiasaan orang Indosesia secara umum merasa belum makan walaupun perut telah terisi penuh oleh makanan yang nonberas lainnya. Diversifikasi pangan ke arah nonberas itu sendiri kurang memiliki makna apabila pangan umbi-umbian dan serealia lain (jagung, terigu) hanya sekadar dijadikan snack. Dewasa ini aneka ragam snack nonberas mudah ditemui di pasaran, tapi konsumsi beras rata-rata nasional tetap tinggi. Untuk mengatasi fakta yang ada dilapangan saat ini sepertinya perlu adanya upaya modifikasi pangan nonberas yang berperan sebagai pengganti makan pokok, bukan makanan selingan. Sebagai contoh nasi aruk yang ada di Bangka dapat dijadikan makanan pokok alternatif pengganti beras yang potensial.

Diversifikasi dari sisi lain yang perlu kita cermati adalah bahan pangan pangan pengganti beras haruslah bahan hasil pertanian lokal dan bukan impor. Sebagai contoh jika makan pengganti beras yang dilakukan mengarah kepada gandum maka ketahanan pangan dari sisi kedaulatan Negara akan terancam, mengingat gandum belum dapat diproduksi secara masih di Negara kita. Kondisi ini tentunya akan membuat Indosesia memliki ketergantungan yang tinggi terhadap Negara lain, dan membuat kedaulatan Indonesia menjadi terancam. 

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), Ratna Sari Lopis dalam VIVAnews (2014), memperkirakan impor gandum tahun ini naik 200 ribu ton menjadi 5 juta ton, dan ini diyakini setiap tahunnya kebutuhan gandum akan semakin meningkat. Kita tentunya tidak dapat tinggal diam, sehingga perlu didorong oleh upaya yang sarat dengan nilai kepedulian, yaitu dengan mendorong sebuah gerakan ketahanan pangan lokal dan keluarga, antara lain dengan cara: 1) Penguatan diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal, 2) Peningkatan nilai nutrisi pangan lokal dan, 3) Mengkampanyekan pangan lokal berbahan dasar hasil pertanian lokal.

Semangat untuk berdiversifikasi perlu juga dilandasi rekayasa teknologi, besarnya kehilangan pascapanen untuk berbagai komoditas pertanian menunjukkan bahwa kita belum menguasai teknologi secara baik. Salah satu penyebab produksi dan kapasitas produksi pangan nasional semakin terbatas adalah masih tingginya proporsi kehilangan hasil panen pada proses produksi, penanganan hasil panen, dan pengolahan pasca panen, yang berdampak pada penurunan kemampuan penyediaan pangan. Kondisi penanganan pascapanen di Indonesia pada umumnya masih tradisional dan konvensional (minim teknologi), belum semua komoditas mempunyai standar mutu , dan susut pascapanen masih tinggi yaitu sebesar 25 40%, nilai ini masih jauh jika dibandingkan dengan susut pascapanen di negara-negara maju yaitu dengan kisaran 5-20%

Hasil survey BPS (1996) menyatakan bahwa susut pascapanen padi sebesar 20,42 % yang terdiri dari Pada saat panen ( 9,5%), Perontokan (4,8%), Pengeringan (2,1 %), Penggilingan (2,2 %), Penyimpanan (1,6 %) dan, pengangkutan (0,2 %). Jika target peningkatan produksi beras nasional menghasilkan 2 juta ton beras setara 3,6 juta ton gabah kering giling (GKG) dan penanganan pasca panen dapat ditekan susut sebesar 1,5 % maka kegiatan ini dapat meningkatkan 0,83 juta ton (GKG) Setara dengan 0,50 juta ton beras. Pada penggilingan beras jika dapat meningkatkan rendemen sebesar 3% maka dapat meningkatkan ketersediaan beras nasional sebesar 1,66 juta ton, Dengan demikian sekitar 2,16 juta ton beras dapat diselamatkan. 

Dari sisi kualitas, Beras juga rentan terhadap kapang Aspergilus flavus dan Aspergilus parasiticus yang menghasilkan mikotoksin jenis Aflatoksin , Menurut Fardias (1995) Mikotoksin ini juga banyak ditemukan mencemari komoditas kacang tanah dan jagung. Cemaran Aflatoksin merupakan karsinogenik dapat mengurangi ketersediaan pangan, perlu diketahui bahwa dalam pengolahan bahan pangan, kapang ini dapat dinonaktifkan dengan perlakuan suhu yang tinggi namun Aflatoksin tidak akan musnah. Sehingga residu aflatoksin akan menyebabkan kanker hati pada manusia.

Beberapa hal tersebut di atas masih terus terjadi di Indonesia kondisi ini terjadi disebabkan oleh pelaku usaha (stakeholders) mayoritas belum memahami perubahan karakteristik pascapanen, belum memahami keinginan konsumen (daya beli masih terbatas) dan, belum memahami dan menerapkan teknik penanganan pascapanen yang benar, oleh sebeb itu gerakan kedua yang perlu dicanangkan oleh pemerintahan daerah dalam upaya penurunan susut baik kualitas maupun kuantitas adalah melalui "Gerakan Penurunan Susut Pascapanen hasil pertanian " khususnya pertanian tanaman pangan. Semoga dapat mencapai target swasembada pangan sehingga Indonesia dapat semakin berdaulat diantara negera-negara di dunia.

Komentar Facebook

Temu Sapa KKN UBB Cendil Berlangsung Interaktif

KKN

Jumat, 13 Juli 2018 - 14:21:27 WIB - 5 bulan lalu

KKN Tematik UBB Desa Namang 2018 Siap Mengabdi Untuk Masyarakat

KKN

Jumat, 13 Juli 2018 - 08:15:08 WIB - 5 bulan lalu

Fournita : "KKN disambut dengan Tawa, Pulang dengan Tangis"

KKN

Kamis, 12 Juli 2018 - 06:14:42 WIB - 5 bulan lalu

BSB Cash, Kartu Retribusi Pembayaran Non-Tunai Resmi Dilaunching

Artikel

Rabu, 04 Juli 2018 - 22:06:00 WIB - 6 bulan lalu

Sistem KRPL Menjadi Solusi Hadapi Lahan Sempit

Artikel

Kamis, 28 Juni 2018 - 23:33:30 WIB - 6 bulan lalu

Berharap Kepada Allah , Ampuh Atasi Sifat Mudah BAPER

Artikel

Kamis, 28 Juni 2018 - 21:51:25 WIB - 6 bulan lalu

Tanaman Hias Siap Bantu Atasi Persoalan di Lahan Tambang

Artikel

Selasa, 26 Juni 2018 - 08:12:16 WIB - 6 bulan lalu

Intip Kerennya Break Pemuda "Zaman Now"

Hiburan

Senin, 25 Juni 2018 - 07:56:38 WIB - 6 bulan lalu

Teknologi Pengering Lada, Menentukan Kualitas Lada Lebih Tinggi

Artikel

Sabtu, 23 Juni 2018 - 22:02:55 WIB - 6 bulan lalu

GenBI Berbagi "Pelita Ramadhan Tanggap Berbagi" 2018

HIkmah

Jumat, 08 Juni 2018 - 01:19:38 WIB - 6 bulan lalu

Generasi Baru untuk Harapan Baru

Kampus

Rabu, 16 Mei 2018 - 01:00:09 WIB - 7 bulan lalu

Pernah Menaruh Harap

Sastra

Minggu, 06 Mei 2018 - 07:04:36 WIB - 8 bulan lalu

Cinta yang pernah tertitip pada Senja

Sastra

Minggu, 06 Mei 2018 - 06:59:04 WIB - 8 bulan lalu

2nd Agro Care Day: Save Our Earth, Save Our Live, And Save Our Future.

Kampus

Minggu, 22 April 2018 - 19:28:54 WIB - 8 bulan lalu

Suhargo: "Banyak Kendala di Stan Bazar Tak Menyurutkan Semangat Kami."

Kampus

Jumat, 13 April 2018 - 08:18:25 WIB - 8 bulan lalu

Meriah: Dies Natalis ke-12, Perkenalkan UBB dengan Jalur yang Berbeda

Kampus

Rabu, 11 April 2018 - 20:52:22 WIB - 8 bulan lalu

Pengenalan Kampus Lewat Parade di Acara Dies Natalis-12 UBB

Kampus

Rabu, 11 April 2018 - 20:39:52 WIB - 8 bulan lalu

Dinda Wiranti Wisudawati Terbaik FPPB UBB "Semua Ini Berkat Orang Tua"

Kampus

Selasa, 27 Maret 2018 - 08:53:42 WIB - 9 bulan lalu

ORMAWA FPPB Galang Dana Bencana Banjir Mentok

Kampus

Sabtu, 17 Maret 2018 - 12:56:12 WIB - 9 bulan lalu

Studi Ekologi dan Populasi Kukang di Pulau Bangka

Lejok Bangka

Jumat, 16 Maret 2018 - 22:52:41 WIB - 9 bulan lalu

AIESEC Bersama Pemuda Bangka Belitung Menuju Era GO DIGITAL

Nasional

Minggu, 25 Februari 2018 - 12:49:42 WIB - 10 bulan lalu

HIMABIO Buka Pintu Masuk Mahasiswa yang "HAUS" Beasiswa Luar Negeri

Kampus

Sabtu, 24 Februari 2018 - 17:22:51 WIB - 10 bulan lalu

Tanaim: "Resi Gudang bukan Serta Merta Menaikan Harga!"

Kampus

Selasa, 20 Februari 2018 - 22:07:04 WIB - 10 bulan lalu

"Safari Politik HIMAPOL ! Bangun Balunijuk Sebagai Jantung UBB"

Kampus

Minggu, 18 Februari 2018 - 13:20:00 WIB - 10 bulan lalu

Mendapatkan Kembali Jiwa Mahasiswa Melalui Latihan Kempemimpinan 3 FPPB

Kampus

Senin, 12 Februari 2018 - 19:46:09 WIB - 10 bulan lalu

PETANG di Hari Sabtu Dekatkan Mahasiswa Fakultas Teknik

Kampus

Senin, 12 Februari 2018 - 14:08:15 WIB - 10 bulan lalu