Gerakan Penurunan Susut Pascapanen

Editorial   |   Artikel   |   Senin, 16 Oktober 2017 - 21:48:33 WIB
Gerakan Penurunan Susut Pascapanen

Tigamatapena.com - Indonesia merupakan bangsa pemakan nasi nomor satu di dunia, setidaknya ini dapat mendatangkan tekanan tersendiri bagi  pencapaian program ketahana pangan. Rata-rata penduduk Indonesia mengonsumsi beras kurang lebih 130 kg per tahun.  Pertumbuhan penduduk yang besar juga membuat bangsa Indonisia  harus lebih cermat dalam merencanakan kebutuhan pangan rakyatnya. Berbagai upaya  guna mengurangi tekanan ini tentunya sudah banyak dilakukan. Selain pencanangan program keluarga berencana yang dilakukan oleh BKKBN,  Kementerian Pertanian pada awal 1990-an, dan Kementerian Kesehatan sekitar  1996 meluncurkan Pedoman Umum Gizi Seimbang dengan pesan gizi nomor  satunya adalah ”makanlah aneka ragam makanan”.

Guna menciptakan Indonesia yang berdaulat pangan, pembangunan ketahanan pangan, Badan Ketahanan Pangan telah memiliki program  Peningkatan Diversifikasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat. Cara ini tentunya perlu kita dukung guna mengurangi beban pemerintah dalam  penyediaan  beras untuk rakyat.  Kurang optimalnya  program diversifikasi pangan selama ini lebih disebabkan oleh  citra beras yang superior ketimbang pangan sumber karbohidrat lainnya.

Masyarakat Indonesia secara mayoritas  memiliki  pandangan  yang masih  kurang yakin terhadap keberadaan singkong atau produk non beras lainnya. Orang yang mengkonsumsi  singkong masih dianggap sebagai orang yang bermasalah baik secara ekonomi maupun kesehatan. Bahkan sebagian orang Indosesia secara umum  merasa belum makan walaupun  perut telah terisi penuh oleh makanan yang berasal dari bahan nonberas lainnya. 

Diversifikasi pangan ke arah nonberas itu sendiri  kurang memiliki makna apabila pangan umbi-umbian dan serealia lain (jagung, terigu) hanya sekadar dijadikan snack. Dewasa ini aneka ragam snack nonberas mudah ditemui di pasaran, tapi konsumsi beras rata-rata nasional tetap tinggi. Melihat fakta yang ada dilapangan saat ini sepertinya perlu adanya upaya modifikasi pangan nonberas yang berperan sebagai pengganti makan pokok, bukan hanya sebagai makanan  selingan saja.  Sebagai contoh nasi aruk yang ada di Bangka  dapat dijadikan makanan  pokok alternativ pengganti beras yang potensial.

Diversifikasi  dari sisi lain yang perlu kita cermati adalah bahan pangan pengganti beras haruslah bahan hasil pertanian lokal dan bukan impor. Sebagai contoh jika makanan pengganti beras yang dilakukan mengarah kepada gandum maka dari sisi kedaulatan, Negara  akan terancam, mengingat gandum belum dapat diproduksi secara masiv di negara kita. Kondisi ini tentunya akan membuat Indosesia akan  memliki ketergantungan yang tinggi terhadap Negara lain, dan membuat kedaulatan Indonesia menjadi terancam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pelonjakan impor gandum sebesar 86,53% pada Januari 2016 dari tahun sebelumnya, dan ini diyakini setiap tahunnya kebutuhan gandum akan semakin meningkat. Kita tentunya tidak dapat tinggal diam, sehingga perlu didorong oleh   upaya yang sarat dengan nilai kepedulian, yaitu dengan  mendorong sebuah gerakan  ketahanan pangan lokal dan keluarga, antara lain dengan  cara: 1) Penguatan diversifikasi pangan berbasis kearifan lokal,  2) Peningkatan  nilai nutrisi  pangan lokal dan, 3) Mengkampanyekan pangan lokal berbahan dasar hasil pertanian lokal.

Semangat untuk berdiversifikasi perlu juga dilandasi rekayasa teknologi. Besarnya kehilangan pascapanen untuk berbagai komoditas pertanian menunjukkan bahwa kita belum menguasai teknologi secara baik. Salah satu penyebab produksi dan kapasitas produksi pangan nasional semakin terbatas adalah masih tingginya proporsi kehilangan hasil panen pada proses produksi, penanganan hasil panen, dan pengolahan pasca panen, yang berdampak pada penurunan kemampuan penyediaan pangan. Kondisi penanganan pascapanen di Indonesia pada umumnya masih tradisional dan konvensional (minim teknologi), belum semua komoditas mempunyai standar mutu  dan susut pascapanen masih tinggi  yaitu sebesar 25-40%, nilai ini masih jauh jika dibandingkan dengan  susut pascapanen di negara-negara maju yaitu dengan kisaran 5-20%.

Kualitas beras  juga rentan terhadap cendawan  Aspergilus flavus dan Aspergilus parasiticus yang menghasilkan  mikotoksin jenis Aflatoksin, Menurut  Fardias (1995) Mikotoksin ini juga banyak ditemukan  mencemari komoditas kacang tanah dan jagung. Cemaran Aflatoksin  merupakan karsinogenik dapat mengurangi ketersediaan  pangan, perlu diketahui bahwa dalam pengolahan bahan pangan, kapang ini dapat dinonaktifkan dengan perlakuan suhu yang tinggi namun Aflatoksin tidak akan musnah. Sehingga residu aflatoksin akan menyebabkan kanker hati pada manusia. Oleh sebeb itu Gerakan Penurunan Susut Pascapanen hasil pertanian, baik susut kualitas maupun kuantitas perlu dicanangkan oleh pemerintahan daerah. Gerakan ini diharapkan dapat mempertahankan kuailitas dan kuantitas hasil pertanian khususnya tanaman pangan di Indonesi.  (Rkm)

Tag

Komentar Facebook

KKN Tua Tunu Indah Bercocok Tanam dengan Metode Hidpronik

Artikel

Selasa, 21 Juli 2020 - 14:20:45 WIB - 1 tahun lalu

KKN Desa Senyubuk Beltim Ikut Andil Dalam Program Posyandu Desa

KKN

Jumat, 17 Juli 2020 - 08:58:04 WIB - 1 tahun lalu

Efek Pandemi dan Solusi yang Ada

Artikel

Kamis, 25 Juni 2020 - 08:39:43 WIB - 1 tahun lalu

Budidaya Sayuran Secara Hidroponik Dimasa Pandemi Covid-19

Artikel

Jumat, 19 Juni 2020 - 20:30:16 WIB - 1 tahun lalu

KAMMI Babel Salurkan Paket Sembako ke 14 Desa di Wilayah Bangka

Artikel

Kamis, 21 Mei 2020 - 10:06:36 WIB - 2 tahun lalu

Tausiyah Online di Tengah Pandemi Covid-19

Artikel

Sabtu, 25 April 2020 - 16:41:45 WIB - 2 tahun lalu

Resmi Dilantik, Pengurus Daerah KAMMI Bangka Belitung di Ketuai Hasyim Ashari

Kampus

Senin, 03 Februari 2020 - 17:26:56 WIB - 2 tahun lalu

“Cara Spesial Memperingati Hari Ibu di Desa Penyamun”

Lejok Bangka

Selasa, 31 Desember 2019 - 12:43:20 WIB - 2 tahun lalu

Desa Lubuk Pabrik “Membangun Ketahanan Pangan melalui KRPL”

Artikel

Rabu, 25 Desember 2019 - 08:13:25 WIB - 2 tahun lalu

BEDINCAK HEBOKAN SUKU KETAPIK DESA KACUNG

Lejok Bangka

Minggu, 24 November 2019 - 22:09:58 WIB - 2 tahun lalu

Aktor Film "Ketika Cinta Bertasbih" Rayakan Maulid Nabi di Desa Kacung

Lejok Bangka

Minggu, 10 November 2019 - 21:54:27 WIB - 2 tahun lalu

Agrotek UBB Tawarkan Solusi LEISA dan Mina Padi

Pertanian

Selasa, 22 Oktober 2019 - 17:40:03 WIB - 2 tahun lalu

Agroteknologi UBB Sosialisasikan Hasil Penelitian Dosen

Pertanian

Sabtu, 19 Oktober 2019 - 14:24:40 WIB - 2 tahun lalu

Nanas eksplorasi jadi maskot karnaval HUT RI 74 di Kecamatan Merawang

Artikel

Selasa, 20 Agustus 2019 - 19:32:44 WIB - 2 tahun lalu

KKN Desa Labu 2019 Sulap Labu Jadi Stik Kekinian

KKN

Jumat, 26 Juli 2019 - 19:50:46 WIB - 2 tahun lalu

WUJUDKAN KONTRIBUSI NYATA, KKN PPM SUNGAI SELAN 2019 BERAKSI PUNGUT SAMPAH

KKN

Jumat, 19 Juli 2019 - 21:55:16 WIB - 2 tahun lalu

HARGA BITCOIN TURUN, INILAH WAKTU YANG TEPAT

Artikel

Jumat, 19 Juli 2019 - 21:12:09 WIB - 2 tahun lalu

Duta PEPELINGASIH Siap Wakili Babel di Tingkat Nasional

Lejok Bangka

Kamis, 04 Juli 2019 - 19:09:59 WIB - 2 tahun lalu

Sabet Juara, Tim Bulutangkis FPPB Sumbangkan Emas Untuk Fakultas

Kampus

Jumat, 12 April 2019 - 08:11:11 WIB - 3 tahun lalu

Eksplorasi Nenas, Jadikan acuan Varietas Baru

Pertanian

Rabu, 10 April 2019 - 03:33:36 WIB - 3 tahun lalu

Atasi Lahan Tambang dengan Budidaya Sorgum

Pertanian

Senin, 08 April 2019 - 19:56:02 WIB - 3 tahun lalu

Defoliasi, Inovasi Baru Perbanyak Buah Tomat

Pertanian

Minggu, 07 April 2019 - 20:05:46 WIB - 3 tahun lalu

Marquez Tuntun Rossi dan Davizioso di MotoGP Argentina

Olah-raga

Senin, 01 April 2019 - 02:44:38 WIB - 3 tahun lalu

Pembuatan Website Desa: Tata Cara Mendaftarkan Domain desa.id

Teknologi

Senin, 01 April 2019 - 02:02:34 WIB - 3 tahun lalu