Jika Duit Bisa Ngomong

Editorial   |   Sastra   |   Sabtu, 06 Januari 2018 - 18:39:53 WIB
Jika Duit Bisa Ngomong

Tigamatapena.com - Izinkan daku memperkenalkan diri yang tak berdaya ini kawan, Akulah “duit” yang lahir saat manusia bingung dengan sistem ke-barteran yang semakin rumit saja, bila melihat sejarah itu mungkin sekitar ribuan tahun yang lalu. Kali ini akan kupaska  kepada kawan-kawan semua, sebongkah uneg-uneg yang telah sekian lama bersemayam dibenakku dan untuk itu kurangkaikan sebuah kisah, bila sekiranya menyentuh nuranimu kawan, bolehlah nanti kita bikin sinetron “catatan hati se.......” (silahkan isi sendiri titik-titiknya)

“Rupiah”, inilah nama sahku di nusantara, “Dollar, euro, yen, won, bhat” begitulah macamnya orang asing diseberang sana menamaiku. “Dua singgit” itulah yang sering kudengar dari animasi botak-botak kembar nakal.

Dengan banyak nickname seperti bintang k-pop,aku juga punya banyak macam sahabat dan pengalaman kawan. Sahabatku kebanyakan ialah tikus berdasi, lintah darat, anak-anak konglomerat dan sejenisnya. Sebelumnya, apakah kau tahu kawan arti dari sebuah persahabatan? bila menurutmu sahabat adalah salah satu orang terpenting dalam hidupmu, salah satu orang yang selalu kau rindukan kehadirannya, atau mungkin salah satu orang yang kau harapkan isi dompetnya maka itu masih bisa dikatakan sangat wajar kawan. Lalu kenapa aku tidak bisa seberuntung dirimu kawan? definisi sahabat bagiku ialah orang yang tidak paling aku harapkan kehadirannya, karena  kehadirannya tidak diharapkan oleh banyak orang. Setiap persahabatan yang kujalani selalu serupa dengan simbiosis parasitisme, dalam pengertian ini, pihak yang dirugikan ialah aku. Rugi ku ialah malu terhadap manusia dan merasa hina dihadapan tuhan. Jika kalian tanya apa aku bahagia menjadi aku, maka jawabannya benar benar tidak. Kenapa? ntahlah ...hanya saja terkadang aku merasa terlalu menawan hinga dapat memicu keributan. Padahal diriku ini tidaklah manis apalagi  terlampau sexy, tapi sering kudengar banyak manusia yang tergoda dan khilaf karena diriku. Disitu kadang aku merasa harus bertanggung jawab.

Andai saja akumulasi penyusutan dalam ilmu akuntansi, bisa menyusutkan beban hidupku ini, mungkin sekarang yang kunikmati hanyalah laba hidup. Tapi berkat ulah sahabat-sahabatku sendiri, aku sukses menggandeng beban-beban hidup yang tak karuan itu, namun ku coba untuk tabah dengan tak lupa bersyukur mengingat masih banyak orang susah bertebaran di muka bumi ini. Tegas katanya ialah orang miskin. Menurutku miskin terbagi menjadi tiga gelombang  ialah miskin harta, miskin ilmu, miskin hati, namun diera sekarang orang yang miskin harta selalu tampak paling sengsara, ntah bagaimana kabarnya orang-orang yang miskin lainnya, yang jelas diantara ketiga variasi itu yang sering berhubungan denganku ialah orang miskin gelombang pertama. Jujur saja, aku tidak sempat akrab dengan mereka. Maaf, bukannya sombong tapi aku seperti menderita alergi .Ya, alergi bila dekat-dekat dengan orang miskin , makanya sulit bagiku bertahan lama di tangan orang miskin. Bahkan beberapa dari sahabatku terkadang sesuka mereka membawaku lari dari tangan-tangan orang miskin yang menggenggam  berbagai harapan itu .Walau hati kecil ini berontak tak suka namun apalah daya yang kupunya, padahal didekat orang miskin yang giat aku merasa teramat berharga, karena sering kulihat  mereka harus menguras keringat dan tenaga, hanya demi menggenggamku kawan, sampai terharu aku dibuatnya, namun tidak sama halnya dengan jenis orang miskin yang mengira bahwa ia memakai terompah emas namun realitanya sandal jepit pun tak punya, makhluk jenis ini cukup ngehits karena sering muncul dalam cerita-cerita sinetron. 

Akan sedikit ku ceritakan kenalanku. Adalah raja miskin yang kukagumi dan begitu ku kenal kehidupannya, ia termasuk golongan miskin gelombang pertama, aroma keringatnya yang begitu khas, baju lusuh andalannya, dan senyumnya yang selalu tampak sedih membuatku menyisakan pilu bilamana memandangnya. Air mukanya seakan mengisyaratkan bahwa ia memang tercipta untuk jadi pemiskin, ya pemiskin ....istilah yang mustahil kau temukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), namun kadang juga mengisyaratkan bahwa ia hanya tak beruntung. Ya..... ia jadi orang yang tak beruntung karena aku selalu berpaling darinya. Bukan karena  saking kejamnya diriku hanya saja tak ingin memberinya harapan palsu. 

Pernah suatu kali aku menemani raja miskin itu  pergi berbelanja, ketika ia hendak menyerahkanku ku lihat  raut mukanya tak mengenakkan, maklum aku adalah sehelai-helainya duit di dompetnya, selain itu alergi ku mulai kambuh, aku tidak bisa tinggal lebih lama bersamanya. Saat itu aku hanya ingin raja miskin itu tau bahwa aku turut bersedih atas perpisahan yang terjadi, jika aku bisa beranak saat itu kawan, akan aku lakukan. Tapi  yang beranak malah istrinya, ya beranak untuk kelima kalinya, pantas saja  belakangan si raja miskin sering kudapati melamun sendirian, rasanya aku dapat merasakan beratnya beban yang akan ia pikul, saking pilu mimik wajahnya saat itu. Walau dia teramat miskin harta, aku begitu menghormatinya kawan, menurutku miskinnya tetap high quality, tak pernah ku dapati ia menadah tangan dipinggiran jalan atau dimanapun hanya saja sering ku dapati ia menadah baskom ,didalam rumahnya bilamana musim hujan telah tiba. Ia pun seorang hamba yang  taat beribadah, di sepertiga malam bilik kayu kediamannya menjadi saksi khidmatnya doa yang ia lantunkan pada sang pencipta, harapannya selalu ia ikatkan pada doa-doa itu .Begitulah kadang aku berusaha  mengenal siraja miskin itu ,lebih dari aku ingin mengenal sahabat sendiri. Kalaupun boleh aku ingin diserang amnesia bila mengenang sahabat-sahabat tak karuan itu, namun tampaknya diserang amnesia sudah terlalu klise dan mudah ditebak serta membuat konflik cerita tak kunjung usai, tentu saja aku tak sudi berlarut-larut terlibat konflik dengan sahabat-sahabat tak tahu diri itu.

Sahabatku kebanyakan tidak dapat menghargaiku walau bagi mereka aku sangat berharga, untuk bersahabat denganku sebagian  anak manusia hanya perlu merengek saja pada ibu-bapaknya, dan mereka sesuka hati mengumbar harga ku ,disitu kadang aku merasa seperti wanita murahan saja. Kau tahu kawan ,kata yang paling sering kudengar dari sahabat-sahabat ku ialah “kau adalah segalanya bagiku” namun aku bukanlah gadis ABG labil yang meloncat kegirangan bila dibisikkan begitu, atau gadis yang suka berbonceng tiga cekikan, dan mengenakan baju bayi, sungguh demi apa aku bukan golongan itu.

Memang benar adanya kawan, sahabatku yang menganggapku terlalu berharga bahkan lebih dari harga dirinya,tak perlulah ku sebutkan nama lengkapnya, takutnya nanti  jadi viral kawan. Namun diantara semua sahabat-sahabatku yang paling keukeuh dan panjang umur bahkan menjamur ialah tikus berdasi, panggil saja pak tikus biar kedengarannya lebih akrab dan bila gendernya  wanita cukup ganti pak menjadi bu ,eeee...untuk kali ini aku akan bongkar aib pak tikus saja, kenapa? .... tentu saja bukan karena golongan pak tikus lebih banyak ketimbang bu tikus , alasannya tak perlu disebutkan karena ku yakin kawan kau dapat memakluminya dimana sudah menjadi kodrat bahwa ibu-ibu tidak pernah salah.

Jangan salah kawan mereka memang manusia sungguhan namun berkepala hewan yang sangat terobsesi denganku, melihat raut wajahnya aku tahu bahwa mereka-mereka itu memakai topeng kepribadian, andai saja aku ini Sa’ad bin Abi Waqash yang doanya selalu di kabulkan maka akan ku doakan pak tikus itu tenggelam bersama keserakahannya, namun aku masih memiliki nurani maka  kupastikan itu bukanlah caraku, tak sampai hati pula aku menghukumnya begitu, lebih baik aku doakan ia segera insaf saja, ah mungkin saking tak sampai hatinya aku biarkan saja dia , bernafas lega, merajarela dan  berjalan tegak di muka bumi dengan congkak. Yah..hanya  begitulah kadang hukuman di dunia yang diterima oleh orang–orang sejenisnya. Kau tahu kawan salah satu syarat untuk jadi aku saja aku harus dapat dipercaya,bahkan  aku telah di terawang milyaran orang, hingga terkadang aku merasa itu melanggar privasiku. Dan aku pun melakukan hal yang sama tehadap pak tikus ini karena rasa penasaranku. Saat itu alangkah terkejutnya aku ....hatinya terlihat cokelat kehitaman  seperti warna buah pisang yang  membusuk dan mungkin Penyakit semacam itu tak bisa diobati dengan tindakan medis secanggih apapun,sungguh! 

Suatu hari itu aku berlibur dengan pak tikus ke suatu desa, kulihat pak tikus itu bertransformasi jadi superman, kesana kemari ia membantu warga sekitar, senyumnya mengembang namun aku tetap bisa menerawang bebas hatinya. Ia ucapkan janji-janji manisnya, kulihat para warga yang mukanya menaruh harapan, ku bisikkan mereka tentang keburukan tikus berdasi, tak dinyana mereka telah terhipnotis oleh kelihaian makhluk itu dalam bersilat lidah, kuharap para warga itu mengerti bahwa menunggu pelaksanaan janji-janji tersebut sama saja seperti menunggu anggun menjadi duta shampoo lain.

Sepanjang perjalanan pulang kulihat ia sesekali menampakkan senyumnya yang banyak membawa luka itu, wajahnya seperti hendak mengatakan “Dunia dalam genggamanku ”. oh Tuhan.... kenapa tak Kau tenggelamkan saja orang ini seperti kau tenggelamkan firaun dan kaumnya terdahulu .

Tak lama selang hari berlangsung, kudapati muka tikus berdasi cemas, memerah, seperti hendak mengeluarkan asap dan bertanduk, mirip ilustrasi iblis yang sering di pertontonkan di televisi, belakangan baru terdengar kabar bahwa putra semata wayangnya mengalami kecelakaan yang menjadi dalang dibalik tewasnya beberapa orang tak bersalah. Tidak ada unsur ketidaksengajaan melainkan murni kesalahan putranya,yang menggilai alkohol. Namun dengan segala kuasanya jelas saja ia dapat memanipulasi  fakta tragedi tersebut, cukup menyuap seorang saksi, basa-basi dengan orang-orang penting, dan untuk sementara masalah pun reda. 

Lalu ku dengar kabar bahwa saksi itu diundang sekeluarga oleh  pak tikus untuk makan malam dirumahnya, sebagai ungkapan bahwa pak tikus puas atas hubungan simbiosis mutualisme nya. Walau belum berjumpa tampaknya aku sudah punya gambaran tentang saksi tersebut, jelasnya itu adalah sosok yang sangat menyukaiku, terbiasa dengan kehidupan yang keras, dalam kehidupannya mungkin ia sudah terbiasa melakukan hal-hal kotor seperti ini Seberapa putus asanyakah ia? sehingga bertindak bodoh dan menjadi budak nafsu yang takkan pernah terpuaskan itu.

Malam yang ditunggu-tunggu itupun tiba, pak tikus dan keluarga menyambut hangat kedatangan tamu istimewa itu, mereka saling berjabat tangan,menanyakan kabar serta senyuman yang menyeringai menghiasi wajah-wajah persekutuan budak nafsu tersebut, akupun tidak sabaran menghadapi rasa penasaranku, saat kondisinya memungkinkan bergegas ku tatap lekat-lekat para wajah yang mungkin penuh putus asa itu, terlihat wajah lugu anak-anak balita, anak perempuan dan laki-laki yang usianya berkisar 7 atau 8 tahun, serta ibu dan bapaknya yang bernampilan sangat sederhana ,saat itu juga hatiku terenyuh dirundung kecewa, karena tak pernah terbesit akan melihat raja miskin ,kepala keluarga yang dulu kuhormati dan kukagumi itu mengulurkan tangannya padaku , serta menarik anak istrinya jua ke dalam lubang yang sama. Sambil tersenyum penuh kemenangan pak  tikus itupun berbisik padaku, “ Kesayanganku,didunia ini tak ada manusia yang tak menyukaimu!” (Mely Hardianti).

Iklan Tengah Detail Berita 568x120px

Tag

Komentar Facebook

KKN Tua Tunu Indah Bercocok Tanam dengan Metode Hidpronik

Artikel

Selasa, 21 Juli 2020 - 14:20:45 WIB - 1 tahun lalu

KKN Desa Senyubuk Beltim Ikut Andil Dalam Program Posyandu Desa

KKN

Jumat, 17 Juli 2020 - 08:58:04 WIB - 1 tahun lalu

Efek Pandemi dan Solusi yang Ada

Artikel

Kamis, 25 Juni 2020 - 08:39:43 WIB - 1 tahun lalu

Budidaya Sayuran Secara Hidroponik Dimasa Pandemi Covid-19

Artikel

Jumat, 19 Juni 2020 - 20:30:16 WIB - 1 tahun lalu

KAMMI Babel Salurkan Paket Sembako ke 14 Desa di Wilayah Bangka

Artikel

Kamis, 21 Mei 2020 - 10:06:36 WIB - 1 tahun lalu

Tausiyah Online di Tengah Pandemi Covid-19

Artikel

Sabtu, 25 April 2020 - 16:41:45 WIB - 2 tahun lalu

Resmi Dilantik, Pengurus Daerah KAMMI Bangka Belitung di Ketuai Hasyim Ashari

Kampus

Senin, 03 Februari 2020 - 17:26:56 WIB - 2 tahun lalu

“Cara Spesial Memperingati Hari Ibu di Desa Penyamun”

Lejok Bangka

Selasa, 31 Desember 2019 - 12:43:20 WIB - 2 tahun lalu

Desa Lubuk Pabrik “Membangun Ketahanan Pangan melalui KRPL”

Artikel

Rabu, 25 Desember 2019 - 08:13:25 WIB - 2 tahun lalu

BEDINCAK HEBOKAN SUKU KETAPIK DESA KACUNG

Lejok Bangka

Minggu, 24 November 2019 - 22:09:58 WIB - 2 tahun lalu

Aktor Film "Ketika Cinta Bertasbih" Rayakan Maulid Nabi di Desa Kacung

Lejok Bangka

Minggu, 10 November 2019 - 21:54:27 WIB - 2 tahun lalu

Agrotek UBB Tawarkan Solusi LEISA dan Mina Padi

Pertanian

Selasa, 22 Oktober 2019 - 17:40:03 WIB - 2 tahun lalu

Agroteknologi UBB Sosialisasikan Hasil Penelitian Dosen

Pertanian

Sabtu, 19 Oktober 2019 - 14:24:40 WIB - 2 tahun lalu

Nanas eksplorasi jadi maskot karnaval HUT RI 74 di Kecamatan Merawang

Artikel

Selasa, 20 Agustus 2019 - 19:32:44 WIB - 2 tahun lalu

KKN Desa Labu 2019 Sulap Labu Jadi Stik Kekinian

KKN

Jumat, 26 Juli 2019 - 19:50:46 WIB - 2 tahun lalu

WUJUDKAN KONTRIBUSI NYATA, KKN PPM SUNGAI SELAN 2019 BERAKSI PUNGUT SAMPAH

KKN

Jumat, 19 Juli 2019 - 21:55:16 WIB - 2 tahun lalu

HARGA BITCOIN TURUN, INILAH WAKTU YANG TEPAT

Artikel

Jumat, 19 Juli 2019 - 21:12:09 WIB - 2 tahun lalu

Duta PEPELINGASIH Siap Wakili Babel di Tingkat Nasional

Lejok Bangka

Kamis, 04 Juli 2019 - 19:09:59 WIB - 2 tahun lalu

Sabet Juara, Tim Bulutangkis FPPB Sumbangkan Emas Untuk Fakultas

Kampus

Jumat, 12 April 2019 - 08:11:11 WIB - 3 tahun lalu

Eksplorasi Nenas, Jadikan acuan Varietas Baru

Pertanian

Rabu, 10 April 2019 - 03:33:36 WIB - 3 tahun lalu

Atasi Lahan Tambang dengan Budidaya Sorgum

Pertanian

Senin, 08 April 2019 - 19:56:02 WIB - 3 tahun lalu

Defoliasi, Inovasi Baru Perbanyak Buah Tomat

Pertanian

Minggu, 07 April 2019 - 20:05:46 WIB - 3 tahun lalu

Marquez Tuntun Rossi dan Davizioso di MotoGP Argentina

Olah-raga

Senin, 01 April 2019 - 02:44:38 WIB - 3 tahun lalu

Pembuatan Website Desa: Tata Cara Mendaftarkan Domain desa.id

Teknologi

Senin, 01 April 2019 - 02:02:34 WIB - 3 tahun lalu